This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 05 Maret 2012

Mekanisme Terjadinya Gempa


Proses terjadinya gempa bumi dapat dilihat dari penyebab utama terjadinya gempa bumi. Ada tiga jenis gempa bumi yang dapat dibedakan dilihat menurut terjadinya.
1.Gempa vulkanik
Sesuai dengan namanya gempa vulkanik atau gempa gunung berapi merupakan peristiwa gempa bumi yang terjadi karena letusan gunung berapi. Gempa ini dapat terjadi sebelum dan sesaat adanya erupsi atau letusan gunung berapi dan getarannya sangat dirasakan oleh manusia dan hewan sekitar gunung berapi itu berada. Menurut penelitian, gempa vulkanik terjadi hanya 7% dari seluruh gempa bumi yang pernah terjadi di muka bumi.Contohnya antara lain adalah gempa gunung merapi di Jawa Tengah, gempa Gunung Una-Una di Tomini Sulawesi Tengah dan gempa Gunung Pericutin.
2.
Gempa Tektonik
Seperti diketahui bahwa kulit bumi terdiri dari lapisan-lapisan batuan. Tiap-tiap lapisan memiliki kekerasan dan masa jenis yang berbeda satu sama lain. Lapisan kulit bumi yang yang terdiri lempeng lempeng tektonik mengalami pergeseran satu sama lain akibat arus konveksi yang terjadi dalam bumi.
Pergeseran ini kian hari menimbulkan pengumpulan energi stress yang sewaktu-waktu akan lepas.Pergeseran lempeng terdiri dari tiga tipe, pergeseran mendatar yang mengakibatkan terjadinya patahan mendatar, pergeseran menunjam yaitu salah satu lempeng menyusup ke lempeng lainnya (subduksi), sehingga menciptakan lembah atau cekungan bumi dan pergeseran tumbukan antar lempeng yang akan menciptakan gunung atau bukit baru. Peristiwa pelepasan energi pada pergeseran lempengan inilah yang disebut gempa tektonik.


MEKANISME TERJADINYA GEMPA
Menurut teori tektonik lempeng, bagian luar bumi merupakan kulit yang tersusun oleh lempeng-lempeng tektonik yang saling bergerak. Di bagian atas disebut lapisan litosfir merupakan bagian kerak bumi yang tersusun dari material yang kaku. Lapisan ini mempunyai ketebalan sampai 80 km di daratan dan sekitar 15 km di bawah samudra. Lapisan di bawahnya disebut astenosfir yang berbentuk padat dan materinya dapat bergerak karena perbedaan tekanan.
Litosfir adalah suatu lapisan kulit bumi yang kaku, lapisan ini mengapung di atas astenosfir. Litosfir bukan merupakan satu kesatuan tetapi terpisah-pisah dalam beberapa lempeng yang masing-masing bergerak dengan arah dan kecepatan yang berbeda-beda. Pergerakan tersebut disebabkan oleh adanya arus konveksi yang terjadi di dalam bumi.
Bila dua buah lempeng bertumbukan maka pada daerah batas antara dua lempeng akan terjadi tegangan. Salah satu lempeng akan menyusup ke bawah lempeng yang lain, masuk ke bawah lapisan astenosfir. Pada umumnya lempeng samudra akan menyusup ke bawah lempeng benua, hal ini disebabkan lempeng samudra mempunyai densitas yang lebih besar dibandingkan dengan lempeng benua.
Apabila tegangan tersebut telah sedemikian besar sehingga melampaui kekuatan kulit bumi, maka akan terjadi patahan pada kulit bumi tersebut di daerah terlemah. Kulit bumi yang patah tersebut akan melepaskan energi atau tegangan sebagian atau seluruhnya untuk kembali ke keadaan semula. Peristiwa pelepasan energi ini disebut gempabumi.

3.
Gempa reruntuhan
Gempa runtuhan atau terban merupakan gempa bumi yang terjadi karena adanya runtuhan tanah atau batuan. Lereng gunung yang terjadi dan memiliki energi potensial yang besar ketika jatuh atau runtuh akan membuat bergetarnya permukaan bumi. Inilah yang disebut gempa runtuhan.
4.
Gempa Jatuhan
Seperti kita ketahui bumi merupakan salah satu planet bumi yang ada dalam susunan tata surya. Setiap hari bumi menerima hantaman meteor atau benda langit lain. Namun ketika menerima meteor atau benda langit lain yang besar bumi akan bergetar. Bergetar permukaan bumi disebabkan jatuhnya benda langit inilah yang disebut gempa bumi jatuhan
Dari keempat jenis gempa itu, jenis Gempa Bumi Jatuhan jarang sekali terjadi di muka bumi, sehingga para ahli kerap mengabaikan untuk memasukkan jenis gempa bumi jatuhan dalam pembahasan gempa bumi. Sebaliknya, gempa bumi tetonik merupakan gempa bumi yang paling sering terjadi dan paling berbahaya menimbulkan korban fisik dan manusia
Gempa bumi tektonik memiliki getaran paling dahsyat. Getarannya mengakibatkan patahnya lapisan permukaan bumi. Akibatnya permukaan tanah menjadi terbelah, jalan raya, rumah, jembatan serta bangunan fisik lain menjadi rusak dan hancur, bahkan menimbulkan korban jiwa manusia yang tidak sedikit
Gempa tektonik kebanyakan terjadi di daerah subduksi yaitu daerah dimana terjadi pergeseran lempeng tektonik yang menyusup atau menunjam ke lempeng tektonik lainya Di daerah subduksi ini dapat terjadi gempa gempa dangkal , sedang dan dalam..
Pusat gempa yang berada di bawah permukaan bumi disebut dengan hiposentrum. Sedangkan lokasi di permukaan bumi yang terletak tegak lurus dari hiposentrum dikenali sebagai `epicenter` atau epicentrum. Semakin dangkal hiposentrum gempa bumi semakin besar potensi kerusakan. Gempa bumi merambat dengan cepat ke segala arah dan menimbulkan kerusakan namun pada episentrum inilah kerusakan paling parah terjadi.
Gempa bumi dapat dibedakan menurut kedalam hiposentrum yaitu gempa bumi dangkal, gempa bumi sedang dan gempa bumi dalam.
a.
Gempa dangkal adalah gempa bumi yang terjadi pada kedalaman hiposentrum kurang dari 33 km dari permukaan bumi. Gempa inilah yang paling berbahaya dan potensi menimbulkan kerusakan.
b.
Gempa sedang atau disebut pula dengan gempa menengah, yaitu gempa bumi yang memiliki hiposentrum antara 33 – 300 km dari permukaan bumi. Sekitar 12% gempa bumi terjadi pada golongan ini
c.
Gempa dalam adalah gempa yang terjadi pada hiposentrum 300 – 700 km di bawah permukaan bumi. Gempa ini jarang sekali terjadi hanya 3% gempa bumi dari keseluruhan gempa bumi yang terjadi.
Menurut lokasinya, gempa bumi dibedakan menjadi dua: gempa bumi daratan dan gempa bumi lautan.
a.
Gempa bumi daratan adalah gempa bumi yang episentrumnya berada di daratan
b.
Gempa bumi lautan adalah gempa bumi yang episentrumnya berada di lautan. Pada gempa lautan inilah yang kerap menimbulkan tsunami karena mengakibatkan bergeraknya air laut sehingga menimbulkan potensi ketinggian gelombang laut yang pada akhirnya menerjang pantai atau pelabuhan terdekat.
Ketika terjadi gempa bumi, getaran yang diakibatkannya merambat dari titik hiposentrumnya. Oleh karena itu gelombang getaran gempa dapat dibedakan menjadi tiga jenis: gelombang primer, gelombang sekunder dan gelombang permukaan
a.
Gelombang primer
Gelombang primer atau disering dilambangkan dengan gelombang P merupakan gelombang getaran gempa yang merambat secara longitudinal, berasal dari hiposentrum dan merambat ke segala arah dengan kecepatan 4 –7 km/s.
b.
Gelombang sekunder
Gelombang ini disebut juga gelombang S atau gelombang transversal adalah gelombang getaran gempa yang merambat dari hiposentrum ke segala arah dengan kecepatan 2 – 5 km/s.
c.
Gelombang panjang
Gelombang permukaaan dilambangkan dengan gelombang L ( Love ) adalah getaran yang gempa yang merambat di permukaan bumi dengan kecepatan lebih rendah. Gelombang ini lebih dikenal dengan gelombang permukaan, karena rambatan getaran lebih terasa di lapisan permukaan bumi.
Getaran gempa bumi dapat merambat keatas (vertical) dan mendatar (horizontal). Getaran gempa komponen vertikal dapat merontokkan genting dan jendela bangunan sedangkan getaran gempa komponen horizontal dapat mengakibatkan robohnya bangunan secara keseluruhan.
Bagaimana mengukur gempa bumi dan daya rambatnya? Untuk mengetahui kekuatan getaran gempa bumi digunakan alat seismometer. Seismometer yang dirangkai dengan alat yang mencatat parameter gempa disebut seismograf. Sedangkan hasil rekaman pada piasnya disebut seismogram. Sebuah seismograf dapat mencatat gempa komponen vertical dan masing- dan gempa komponen horizontal.
Ketika terjadi gempa, getaran gempa yang terekam adalah gelombang primer karena kecepatan rambatnya paling tinggi, lalu diikuti oleh rekaman gelombang sekunder yang memiliki kecepatan rambat lebih rendah dari gelombang primer. Gelombang permukaan datang paling akhir karena memiliki kecepatan rambat paling rendah. Seismograf mencatat semua getaran dan kecepatan rambat gempa bumi dalam bentuk seismogram.
Ada beberapa skala yang digunakan untuk mengukur kekuatan gempa bumi. Skala Mercalli, Omori, Cancani, dan skala Richter merupakan skala yang digunakan, namun skala Richter adalah yang paling popular untuk mengukur kekuatan gempa bumi yang disebut dengan magnitude (M). Berdasarkan skala-skala ini orang dapat mengenali kekuatan gempa yang pada akhirnya berguna untuk mengantisipasinya seperti desain konstruksi bangunan dan jalan raya
Menurut skala Richter kekuatan gempa bumi dapat dilihat sebagai berikut:
Skala Richter (M)
 Pengaruh Gempa Bumi
> 3,5Umumnya tidak terasa, tetapi terekam
3,5-5,4Seringkali terasa, tetapi jarang mengakibatkan kerusakan
< 6,0Dapat menyebabkan kerusakan besar pada bangunan yang kurang kuat dan meliputi daerah yang kecil.
6.1-6.9Dapat menimbulkan kerusakan pada fisik dan menimbulkan korban jiwa manusia pada radius sampai 100 kilometer
7.0-7.9Pada skala ini termasuk gempa bumi besar. Dapat menyebabkan kerusakan serius pada daerah yang lebih luas.
> 8Gempa bumi besar. Dapat menyebabkan kerusakan serius pada daerah yang meliputi beberapa ratus kilometer
Sebagai contoh, gempa bumi di Aceh mencapai kekuatan 9,0 skala Richter yang mengakibatkan kerusakan fisik yang amat besar dan menimbulkan korban yang banyak

Kamis, 01 Maret 2012

Faktor Kuat Tekan Beton (interpolasi)


Seperti telah di bahas sebelumnya, bahwa kuat tekan beton merupakan faktor yang utama dan penting untuk diperhatikan di dalam pelaksanaan pengecoran dilapangan. Yang kemudian akan saya garis bawahi adalah terkait umur beton dan kuat tekan karakteristik yang dimilikinya pada umur tersebut.
Rata-rata, beton mencapai kekuatan tekan karakteristik rencananya pada umur 28 hari. Pada umur tersebut kuat tekan karakteristik beton mencapai kekuatan rencananya.
Dibawah ini adalah grafik hubungan antara umur beton dengan faktor kuat tekannya. Pada peraturan beton (PBI 1971), hanya dimunculkan faktor kekuatan pada umur 3 hari, 7 hari, 14 hari dan 28 hari. Saya kemudian mencoba mencari pendekatan (baca : trend) faktor kekuatan tersebut dengan menginterpolasikannya.
kuat tekan
Mengetahui kekuatan tekan beton karakteristik ini penting, mengingat pada proyek konstruksi, uji tekan sample beton dilapangan terkadang dites tidak tepat pada umurnya (baca: 28 hari), sehingga perlu dilakukan pengkoreksian dengan menggunakan faktor kekuatan untuk kemudian diketahui apakah pada umur tersebut kekuatan karakteristinya memenuhi atau tidak.
Saya ambil contoh, terdapat 4 buah sample beton, dibuat dengan semen portland biasa dengan mutu beton K-450 (ini ekivalen dengan kuat tekan karakteristik fc’ = 37 Mpa). Sample beton tersebut akan mencapai kuat tekan karakteristik 37 Mpa pada umur 28 hari, akan tetapi pelaksanaan pengetesan pada sample-sample tersebut akan dilakukan acak, yakni pada umur 3 hari, 7 hari, 10 hari dan 18 hari. Jadi perlu dilakukan pengoreksian dengan menggunakan faktor kekuatan pada kuat tekan karakteristik beton tersebut.
  1. Pengujian pada umur 3 hari –> 37 Mpa x 0,4 = 14,8 Mpa
  2. Pengujian pada umur 7 hari –> 37 Mpa x 0,65 = 24,05 Mpa
  3. Pengujian pada umur 10 hari –> 37 Mpa x 0,77 = 28,49 Mpa
  4. Pengujian pada umur 18 hari –> 37 Mpa x 0,91 = 33,67 Mpa
Jadi fungsi faktor kekuatan tersebut adalah mengetahui kesesuaian kekuatan tekan karakteristik rencana dengan umur pada saat sample tersebut di tes.
Ini pun juga ada korelasinya dengan waktu dimana bekisting beton tersebut boleh dibongkar.
Semoga ada manfaatnya.

Selasa, 28 Februari 2012

SEAL COAT


SEAL COAT atau sering disebut dengan Mastic Seal Emulsion adalah campuran material Polymer Emulsion Asphalt dengan Prima Mastic Emulsion. Seal Coat ini biasa digunakan untuk melapisi jalan, melindungi perkerasan eksisting dari masuknya air ke dalam pori-pori jalan sehingga dapat menjaga kondisi skid-resistance jalan.
Seal Coat ini adalah salah satu produk yang sedang dicoba untuk diterapkan dalam memperpanjang umur jalan. Trial ini telah dicoba dibeberapa tempat yaitu jombang, bandung dan palembang. Seal coat inipun memiliki keuntungan yaitu tidak perlu adanya penutupan lalu lintas yang lama karena setelah setting jalan dapat langsung dilewati 
lapisan pelindung melayani untuk menutup bagian atas aspal, mencegah air dari menembus permukaan trotoar dan melindungi lapisan atas aspal dari oksidasi dan keausan yang disebabkan oleh paparan sinar matahari dan udara. Mantel Seal juga mempercantik trotoar dengan menyediakan, halus hitam, bahkan permukaan ideal untuk melukis garis dan menyapu.

lapisan pelindung dirancang untuk digunakan jalan raya dari mana ada kecepatan lalu lintas rendah dan radiuses balik ketat seperti tempat parkir, taman rumah mobil, sekolah, bahu, dll mantel Seal berbeda segel bubur yang menggunakan filler lebih kasar agregat dan dirancang untuk digunakan pada daerah kecepatan tinggi dengan lalu lintas bergulir lurus
Dengan asumsi bahwa perkerasan aspal awal dirancang dan dibangun dengan benar, penyebab utama kegagalan adalah penetrasi air ke dasar aspal.Proses ini dimulai dengan oksidasi dari permukaan perkerasan yang menyebabkan aspal kering dan menjadi rapuh, ini menyebabkan erosi lapisan atas partikel halus dan munculnya batu yang lebih besar dan retak kecil di permukaan.

Jika tidak diobati retakan ini tumbuh dari waktu ke waktu dan akhirnya memungkinkan air untuk menembus ke dasar trotoar. Ketika air masuk dasar trotoar bergerak basis material dan mengendap menyebabkan retak lebih lanjut dan "penampilan buaya." Ketika trotoar mencapai tahap ini satu-satunya pilihan adalah pengangkatan dan penggantian aspal lama
lapisan pelindung melapisi jalan aspal, mencegah oksidasi dan erosi lapisan atas aspal. Pada lapisan perkerasan yang lebih tua segel menggantikan partikel halus hilang dari permukaan aspal akibat oksidasi. Seal segel mantel celah-celah kecil yang bisa berubah menjadi retak besar dan mencegah air merembes ke bahan dasar.
lapisan pelindung membantu melindungi aspal dari matahari serta efek berbahaya dari tumpahan bahan kimia seperti minyak dan bensin. Seal lapisan menyediakan permukaan hitam menarik yang sangat ideal untuk melukis garis dan tanda lainnya. Hal ini juga meninggalkan ideal, permukaan halus bersih untuk menyapu, menurunkan biaya pembersihan. Mantel Seal biaya sen per kaki persegi dibandingkan dengan dolar yang dibutuhkan untuk memperbaiki atau mengganti aspal yang rusak.
Umumnya Anda harus menunggu beberapa bulan sebelum menyegel trotoar baru untuk memungkinkan waktu untuk menyembuhkan. CSI merekomendasikan menunggu 6-12 bulan sebelum segel perkerasan lapisan baru. Setelah permukaan telah disegel itu harus disegel kembali setiap 3 - 4 tahun atau sesuai kebutuhan

Senin, 27 Februari 2012

Jenis-Jenis Gempa dan Apa yang Harus Dilakukan Saat Gempa


Gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya permukaan bumi secara tiba-tiba akibat gelombang seismik terhadap lapisan-lapisan batuan (litosfer). MenurutWikipedia, gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik. Berdasarkan penyebabnya, gempa dibedakan atas gempa tektonik, gempa vulkanik, gempa runtuhan, dan gempa buatan. Berdasarkan bentuk episentrum, gempa dibedakan menjadi gempa linier dan gempa sentral. Berdasarkan hiposentrumnya, gempa dibedakan menjadi gempa dalam, gempa intermediet, dan gempa dangkal.

Jenis-Jenis Gempa Berdasarkan Penyebabnya.


1) Gempa Tektonik
Gempa tektonik adalah gempa yang diakibatkan gerakan tektonisme berupa pelepasan tenaga akibat pergeseran atau pematahan lempeng tektonik. Gempa jenis ini sering terjadi di Indonesia, bisa sangat kuat dan meliputi wilayah yang luas. Contohnya adalah gempa yang mengguncang Yogyakarta pada 27 Mei 2006 berkekuatan 5,9 SR. Gempa ini mengakibatkan >5000 orang meninggal, puluhan terlukan dan ratusan ribu rumah hancur.
Pusat gempa Yogyakarta 27 Mei 2006
Gempa tektonik yang pusat gempanya berada di dasar laut sering berpotensi menimbulkan tsunami.
Tsunami adalah gelombang laut raksasa yang timbul akibat gempa di dasar laut atau gunung meletus.
Mengapa permukaan laut turun sebelum terjadi tsunami?
Tsunami yang muncul diawali dengan peristiwa ini adalah tsunami yang disebabkan oleh gempa tektonik. Saat dasar laut turun akibat adanya pergeseran lempeng, terjadilah penarikan volume air mengisi ruang kosong di bawah laut. Akibatnya, permukaan air laut di pantai turun puluhan hingga ratusan meter. Dalam waktu beberapa menit kemudian, air laut kembali dengan gelombang yang jauh lebih tinggi dan menyapu daratan tepi pantai.
2) Gempa Vulkanik
Gempa vulkanik adalah gempa yang terjadi karena kegiatan gunung api, baik sebelum maupun sesudah letusan gunung api. Gempa ini terjadi bersamaan dengan pergerakan magma yang mendorong ke atas mencari daerah yang lemah sehingga muncul ke permukaan bumi. Gempa ini hanya terasa di sekitar gunung api dan tidak terlalu kuat dibandingkan dengan gempa tektonik.
Gunung meletus bisa memicu gempa vulkanik
Terdapat 2 kategori gempa vulkanik, yaitu:
  • Gempa vulkano-tektonik, yaitu gempa yang diakibatkan perubahan tekanan pada batuan akibat aktivitas magma, dan gempa ini bisa terjadi kapan saja.
  • Gempa periode panjang, yaitu gempa yang terjadi akibat penerobosan magma yang menembus batuan di sekitarnya sehingga menimbulkan getaran. Biasanya gempa ini menjadi pertanda gunung api akan meletus.
3) Gempa Runtuhan/Terban
Gempa runtuhan adalah gempa yang terjadi akibat runtuhnya massa batuan dan tanah. Contohnya adalah gempa yang terjadi saat suatu gua runtuh atau gempa akibat longsor. Gempa ini tidak begitu kuat dan radiusnya pendek, paling-paling hanya 1-2 km.
4) Gempa Buatan
Merupakan gempa yang terjadi karena aktivitas manusia. Misalnya pada saat penancapan tiang pancang beton (untuk membangun ruko/kantor). Daerah yang dipengaruhi gempa ini sangat sempit, hanya 1-100 meter.

Jenis-Jenis Gempa Berdasarkan Kedalaman Hiposentrum


  1. Gempa dangkal, jika jarak hiposentrumnya <100 km di bawah permukaan bumi
  2. Gempa intermediet/pertengahan, jika jarak hiposentrumnya 100-300 km
  3. Gempa dalam, jika jarak hiposentrumnya >300 km dari permukaan bumi
    hiposentrum dan episentrum gempa

Jenis-Jenis Gempa Berdasarkan Jarak Episentrum


  1. Gempa setempat, jika jarak terjauh gempa terasa <1000 km dari episentrumnya
  2. Gempa jauh, jika jarak terjauh gempa terasa kurang lebih 10.000 km dari episentrumnya
  3. Gempa sangat jauh, jika jarak terjauh gempa terasa >10.000 km dari episentrumnya

Apa yang Harus Dilakukan Ketika Gempa Terjadi?


  • Jangan panik.
  • Jika terjebak di dalam rumah/gedung, cari perlindungan tempat-tempat yang dapat melindungi seperti di kolong meja yang kuat. Usahakan agar kepala dilindungi oleh bantal.
  • Jika sempat, segera keluar dari bangunan menggunakan pintu darurat, bukan lift. Perhatikan struktur bangunan, hindari melewati bagian bangunan yang tampaknya mudah roboh.
  • Matikan lampu dan kompor karena dapat menyebabkan kebakaran.
  • Jika berada di luar, hindari bangunan tinggi, pohon, tiang listrik, pecahan kaca, dll. Jangan mengendarai motor karena dapat menyebabkan kecelakaan.
  • Segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
  • Utamakan keselamatan jiwa, jangan terlalu memikirkan keadaan barang-barang di rumah.

Upaya-Upaya dalam Menghadapi Bahaya Tsunami


  • Memetakan daerah bahaya tsunami berdasarkan data gempa bumi, lempeng, dll.
  • Menerapkan sistem penerapan dini.
  • Menjaga ekosistem pesisir, seperti hutan bakau, terumbu karang, dll.

Jalur Gempa di Indonesia


1) Sabuk Alpin Himalaya atau Sabuk Mediteran
Membujur dari Samudera Atlantik dekat Kep, Azores, sepanjang utara Laut Tengah menuju Turki, Iran, Himalaya, Myanmar, Indonesia. Di wilayah Indonesia membujur meliputi Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan Maluku.
2) Sabuk pasifik
Sabuk Pasifik (Ring of Fire) merupakan daerah yang rawan gempa dan gunung meletus. Membujur menyusuri tepi Samudera Pasifik, dari Filipina ke Jepang, Semenanjung Kamchatka, Kep. Aleut, pantai barat Amerika, Selandia Baru, Kep. Samoa, Papua, dan bertemu dengan sabuk Mediterania di Maluku.

Beberapa Istilah Kegempaan


  • Hiposentrum, merupakan suatu titik atau garis di dalam litosfer (lapisan batuan) bumi yang menjadi sumber gempa.
  • Episentrum, yaitu suatu daerah di permukaan bumi yang menjadi pusat getaran gempa. Episentrum terletak di atas hiposentrum.
  • Isoseista, yaitu garis yang menghubungkan daerah dengan intensitas getaran yang sama. Garis isoseista berbentuk lingkaran
  • Makroseisma adalah daerah di sekitar episentrum yang mendapat kerusakan paling besar.
  • Pleistoseista, yaitu garis yang melingkari daerah dengan kerusakan terbesar akibat gempa
  • Episentral adalah daerah di dalam pleistoseista
  • Seismograf adalah alat pencatat gempa
  • Seismogram adalah gambaran getaran bumi yang dicatat oleh seismograf dalam bentuk garis patah-patah (zig-zag).
  • Seismologi, yaitu ilmu yang secara khusus mempelajari gempa
  • Gelombang seismik adalah getaran gempa yang menjalardi dalam maupun di permukaan bumi dalam bentuk gelombang longitudinal (gelombang primer) dan gelombang transversal (gelombang sekunder yang datang setelahnya).
  • Magnitudo adalah parameter/ukuran kekuatan gempa yang diukur berdasarkan goncangan gempa pada sumbernya. Satuan yang banyak digunakan adalah Skala Richter (SR).

Bagimana Cara Menghitung Jarak Pusat Gempa?


Pencatatan gempa dilakukan di banyak tempat (minimal 3 stasiun pencatat gempa) agar pusat gempa dan episentrumnya bisa diketahui secara tepat. Untuk menghitung jarak stasiun ke episentrum dapat menggunakan Rumus Laska sebagai berikut.
D = [(S-P)-1] x 1.000 km
Keterangan:
D = Jarak apisentrum (km)
S = Saat gelombang sekunder tercata pertama kali dalam seismograf (menit)
P = Saat gelombang primer tercatat pertama kali dalam seismograf (menit)
Sumber: PR Geografi Untuk SMA/MA, Advanced Learning Geography 1

alifsuty@blogspot.com. Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates